Home / Literatur / Raja Siguntur Daulat Tuanku Seri Alam Khalifah Allah Fil Alam Jauhan Berdaulat Sah Terusan

Raja Siguntur Daulat Tuanku Seri Alam Khalifah Allah Fil Alam Jauhan Berdaulat Sah Terusan

Pasal pada ini menyatakan, maka datanglah Tuanku dari Negeri Indu (Indra) Puru (Pura), berlayar dengan perahu sampai digawal digelangkan perahu itu disasa(k) nan dengan bata. Sebab itu, maka bernama Muru (muaro) Bata Kalang, sebab Tuanku Indra Pura menggalangkan perahu disana pada masa (da)hulunya. Kemudian daripada itu, maka hanyutlah kulit rebung bulu dari hulu, maka tuanku Indra Pura pun pikir adalah orang di hulu air ini, maka Tuanku Indra Pura mudik dengan sampan serta menanti Dua Balang sampai mudik Enggan Pemunduk namanya disanalah berbuat punduk sebab maka itu bernama Punduk dari sana lalu ke taratak, maka berapa lamalah ialah berkahwin Tuanku Inda Puru yang bergelar Sultan Mahmud Sah kepada Puti Seri Mentari. Dan Manti Raja nan bergelar Sultan Iskandar  Samapadu kepada Puti Seri Bulan. Dan Dua Balang  nan bergelar [Am]panglima Setia Samapadu kepada Puti Seri Dadih dan sudah sempurna kawin ketiganya. Maka mengekor anak raja itu di dalam tian, dan Raja Indra Pura kembali pulang ke Indra Pura. Kemudian zohir anak itu laki-laki dan Manti dan Duo Balang mangadukan anak pula.

Adapun anak itu gadang bujak kecil, maka bertanya pada mandenya Puti Seri Mentari katanya “Dimana ayah/hamba, dimana negerinya ayah hamba?”, maka berkata mandenya “Raja Indra Pura ayahanda”. Maka minta izin itu pergi menurut ayahnya ke Indra Pura, maka dilepaslah itu berjalan serta/kelengkapannya serta pakaiannya dihantarkan ke Indra Pura. Sampai di Indra Pura naik ke atas rumah ayahnya kiranya tidak tahu ayahnya kepada anaknya , maka duduklah itu atas istana Tuanku, maka Tuanku itu, maka berkata tuanku Indra Pura kepada anak itu “anak siapa ini yang duduk di atas istana hamba” maka berkata anak itu “hamba dari negeri teratak mencari ayah hamba datang kemari tuanku Indra Pura ayah hamba kato orang” maka tahu tuanku Indra Pura serta dan Penghulu dan orang-orang bersar di dalam Negeri Indra Pura, maka berkatalah Tuanku Indra Pura kepada Manti dan segala Penghulu “sebab segala Datuak hamba rapatkan karena anak hamba ini datang dari negeri teratak di dalam tian hamba tinggalkan sekarang lah datang kemari mencari hamba” maka lamalah anak itu diam di sana lamalah antaranya anak itu sudah cerdik, maka anak itu minta pulang ke negeri, maka dilepaskan anak itu pulang serta Kain Baju Emas Perak tidak anak itu tidak mau. Kata anak itu’ “Kain Baju Emas Perak ayah beri melainkan habis jua akhirnya “ kata ayahnya “apa nan tidak akan habis akan hamba berikan kepada anakanda” maka berkata anak itu kepada ayahnya “melainkan berikan hamba KEGADANGAN dan KEBESARAN dan kerajaan ayahanda” maka diberikanlah kebesaran dan kerajaan Segala Sembilan dan Meriam Nan Sembilan Letus serta diberi suatu nan Sepucuk Kepada Datuk Nan Bernama di Guguk serta Datuk Nan Sembilan di Solok.

Maka angkat Raja di Balai Puas, maka lalu kebawa Kayu Jawa, itulah Pusaka Raja Terusan berdiri tatkala dahulunya Tiga Raja Di Balai Puas tegak payung di bawa jua. Adapun Pusaka Raja Padang tatkala berdiri tegak payung di sawah jua serta Solok Selayo Rapat Nan Tiga Belas Kota, demikianlah adanya, walahull alam.

Pasal ini pada menyatakan sudah nan sedemikian itu, maka angkat oleh sampai di Bandar Padang serta Datuk Nan Seluruh Air, Nan Sehingga Awar Goyang Mudik, Datuk Nan Berempat Sekota serta Tuanku [Am]panglima dan Tuanku Bendahara serta Penghulu Nan Dua Belas di Negeri Padang sampai di Pasebahan. Maka diangkat Tuan Kemandur Padang serta memakai Payung Gadang nan segala bunyi-bunyian Gendang, Serunai Alam, Merawal Cindai Wali Yang Kuning dan segala Penghulu Nan Berempat se Kota memakai Ikat dan Baju Takan serta Keris dan Penghulu Nan Dua Belas. Demikian pula serta memakai Payung Gadang dan satu perempuan membawa gambu tirah emas itu pakaian penghulu padang. Tatkala naik segala Tuanku Penghulu ke dalam Pasabean, maka berdirilah baris salah dua Kompeni kiri dan kanan, maka berbunyi meriam sembilan letus. Itulah angkatan raja terusan. Maka bergelar Tuanku Paduka Seri Sultan Basar Sah Terusan.

Sudah itu maka tatkala akan pulang Tuanku itu ke terusan, maka dihantarkan oleh dua orang-orang putih sekretaris satu kiri dan satu di kanan tuanku itu ditengah-tengah sampai ke tepi air. Jikalau datang dari terusan demikian itu jua, tetapi apabila sampai di Pasabean, maka tuan komendur menusung enggan pintu Pasabean, demikian apabila datang Tuanku Terusan ke Bandar Padang, Wallahu Alam.

Pasal ini menyatakan, apabila sudah Tuanku terusan diangkat Kompeni di Bandar Padang sampai dalam Negeri Terusan maka berdirilah Adat Pusaka Raja Berdiri di dalam Negeri Terusan nan sehingga Awar Kuning Mudik nan sehingga Bungus Hilir dan Supaya-Supaya Kerubing Telawak Lubuk Rakapujan Pulut-Pulut. Maka berdiri segala alat kebesaran tatkala Raja terusan naik nubat boleh Khalifah daripada Raja Indra Pura, maka dilekatkan Pakaian Rumah Gadang, maka di perbuatlah Si Maharaja Paci namanya serta pakaian rupa-rupa Kain Jalib di muka Pintu Gadang. Sudah demikian, maka duduk lah Raja itu di dalam Maharaja Paci itu bersilungkat dan berdiri kebesaran Merawal dan Payung Gadang, Tambak Bercermin, Pawa Bertepung Tertakut di halaman kiri kanan dan bawa Penghulu memegang jabatan masing-masing, Wallahu Alam.

  Pasal ini pada menyatakan dari pada pusaka akan naik nubat duduklah Raja itu di dalam Maharaja Paci bersilungkat dan Raja Nan Setia di Siguntur berdiri Di Bawah Payung berkeliling tempat Tagok itu di atas Kasur Beralas Dengan Cindai sebatang sebatang dan segala Imam Khatib dan Mualim Nan Empat Puluh Empat serta Penghulu Nan Berempat sangkut teguk bersapa serta orang haq, Orang Sembilan dan Orang Banyak tua-muda berhimpun semuanya di belakang. Dan Raja Nan Setia Tuan Sembah Raja Megah memangku Raja Nan Bangkah Megagur ke Padang, nubat orang Taratak Sungai Lundang Caniago Kurung Gadang dan memangku Raja Makat orang Caniago Semagat dan memegang Pedang Bercula Gajah, Melintang orang Beruang-beruang Lelantai dan penggenggam Tombak Bercermin Maharaja Lila orang Sungai Lundang dan Sendiluan sembah Raja dan Incak Hitam orang Caniago Mandelik diamnya di Simpang Kayu Batu. Dan Manti Raja Baginda Setia orang Ampang pula orang Caniago Pancali dan Penghulu Raja ternikmat orang Sungai Talang orang Caniago Sungai. Nan Imam Hakim Rajo Indu Setia orang Keticir dan Piatu orang Siguntur Saudara Raja Lenggang orang Tanjuang nan jadi ke Bandar Padang, itulah Pusaka Raja Terusan Naik Nubat.

Maka menyembahlah raja nan setia disusun jari nan sepuluh kepala kening “ampun Tuanku Daulat Seri Alam Khalifah Allah di Pagaruyung” maka Raja Mekah itu menjawat sembah dipulangkan kepada pagaruyung sampai itu. Maka rukuk seperti orang sembahyang di[h]a lutut, ‘Ampun Tuanku Seri Alam Khalifah Allah fil Alam”. Sekira-kira bangkit daripada itu berdiri kembali diangkat sembah disusun tangan di kepala. Maka Raja Siguntur Daulat Tuanku Seri Alam Khalifah Allah  Fil Alam Jauhan Berdaulat Sah Terusan dan Gendang Luri bunyi dalam sujud itu serta sembah beroleh bunyi gendang dan serunai luri berbunyi dan gaung dan mamungan berbunyi tabu sidamabama (?) berbunyi meriam meletus sudah orang nan banyak menyembah. Maka naik orang sembahnya ke atas rumah tuanku-tuanku itu duduk diatas kedudukan Bahtera Gadang.

Maka Tuanku Raja Siguntur serta Orang Nan Berjabatan dan Penghulu Imam dan Khatib naik menyembah satu satu orang dan duduk lah orang sekalian mereka itu dan masing-masing kedudukan seperti data serta minum-minum bersuka suka cita potong kerbau akan pemberi makan isi negeri karena raja itu sudah sempurna pekerjaannya dan adat kepada Raja Siguntur uang dua puluh riyal, cindai sebatang, bersuara sebatang. Dan kepadalah orang nan berjabatan di atas ini yang memegang jabatan dua puluh riyal, di bagi orang yang  dua puluh riyal ini, itulah adat pusaka raja terusan tatkala naik nubat adanya.

 

note: Data ini berasal dari skripsi yang dibuat oleh mahasiswi Universitas Indonesia bernama Rainy Sulistiani Kining Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya di Jakarta pada tahun 2012 disalin dari Naskah yang terdapat di Belanda dengan kode naskah Or. 12.128 katalog milik Van Rokel dan Inventory of the Oriental Manuscript of the Library of the University of Leiden. Halaman 117-121 (lembaran kertas) 129-133 (lembaran pdf).

About minangheritage

Minangkabau Heritage adalah sebuah gerakan konservasi Warisan Budaya Minangkabau yang berangkat dari kesadaran akan perlunya portal open data dengan sumber terbuka yang bertemakan Kebudayaan Minangkabau. Proyek ini diselenggarakan secara gotong royong baik dari sisi teknis, penyuntingan naskah dan pelbagai kegiatan lainnya. Saat ini ada 3 Sub Tema besar yang sedang dikerjakan yaitu : Sejarah Minangkabau, Budaya Minangkabau, Warisan Minangkabau. Ingin berpartisipasi ? Silahkan kirim file, naskah, dokumen anda melalui menu yang tersedia atau kiri email beserta lampiranya ke [email protected]

Check Also

Pauh: Nagari Angin

Tidak banyak informasi mengenai Pauh yang saat sekarang merupakan bagian wilayah kecamatan dari kota Padang. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *