Home / Hipotesa dan Analisa / Kerajaan Koto Anau

Kerajaan Koto Anau

Isi dari arikel ini merupakan salinan dengan perbaikan redaksional dari; Martamin, Mardjamni,. dkk. 2002. Sejarah Perjuangan Minangkabau. Buku 1. Masyarakat Sejarahwan Indonesia cab. Sumatera Barat bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Sumatera Barat.

Kerajaan Koto Anau (tahun tidak diketahui) terletak di daerah Kubuang Tigo Baleh, yang setelah kemerdekaan merupakan bagian dari Kabupaten Solok. Bekas Kerajaan Koto Anau kemudian disebut sebagai Kecamatana Lembang Jaya, wilayahnya meliputi ” Anam Koto di Dalam dan Ampek Koto Kapak Radai” (A Chaniago Hr Dt. Rajo Sampono. 29 Mei 1988. Kerajaan Koto Anau. Harian Singgalang. Padang). Nama Kerajaan Koto Anau sendiri saat sekarang lebih dikenal sebagai salah satu nagari dengan nama Koto Gadang.

Peta Infrastruktur Kabupaten Solok

Anam Koto adalah wilayah asal Kerajaan Koto Anau meliputi; Tanah Sirah, Koto Gadang, Batu Banyak, Koto Laweh, Limau Lunggo, Batu Bajanjang. Ampek Koto Kapak Radai adalah wilayah bekas Keraajaan Camin Taruih dan Camintalayang yang menjadi satu wilayah Gunung Selasih IV Koto meliputi; Bukit Sileh, Salayo Tanang, Kampuang Dalam, dan Simpang Tanjuang nan IV.

Pusat dan asal penguasa Kerajaan Koto Anau adalah “Malayu Kampuang Dalam” dari wangsa Malayapura. Raja pertama yang memerintah di Koto Anau bernama/bergelar Pitalo Jombang (tahun tidak diketahui) yang berasal dari Guguak (Solok) yang menikah dengan Putri Sari Mayang yang berasal dari Rawang Hitam, Sungai Nyalo (Jambi), Putri Sari Mayang adalah keturunan dari Raja Melayu Jambi yang pergi dari wilayah kekuasaannya pada saat terjadi penyerangan Kerajaan Sriwijaya .

Pendapat dan pengetahuan masyarakat menyebutkan pendahulu atau nenek moyang dari Raja Koto Anau Pitalo Jombang berasal dari Wilayah Gunung Talang (Gunung Selasih), pada perkembangannya terjadi pernikahan antara keturunan Raja Koto Anau ini dengan keturunan (cucu) dari Cindua-Mato (dari pihak Ibu) dan keturunan (cucu) dari Dang Tuanku (dari pihak Ayah). Dari pernikahan itu membuahkan keturunan para raja-raja di Koto Anau, selanjutnya pada perkembangannya terjadi juga pernikahan antara salah seorang Putri Keturunan Rajo Koto Anau ini dengan tokoh yang disebut sebagai “Rajo Aniayo” (tahun tidak diketahui) yang tidak disebutkan asal muasalnya, Rajo Aniayo sempat menjadi raja, pada masa pemerintahannya Rajo Aniayo ini menjalankan pemerintahan yang tidak baik, muncul anggapan bahwa pemerintahan yang tidak baik ini sama halnya dengan kejam, pada akhirnya Rajo Aniayo ini digantikan oleh Putranya sendiri, putra dari Rajo Aniayo ini dikenal dengan “Bujang Paman” (tahun tidak diketahui).

Menurut Abdurahman, seorang tokoh pemangku Adat di Koto Anau mengatakan bahwa penduduk Koto Anau berasal dari melayu (tahun tidak diketahui), di saat kedatangan rombongan kelompok masyarakat ini dipimpin oleh seorang tokoh yang bernama/bergelar Rajo Kaciak, di Koto Anau rombongan kelompok masyarakat ini bertemu dengan rombongan lainnya yang datang dari Pariangan melalui Guguak.

Menurut perkiraan A Chaniago Hr Dt. Rajo Sampono Kerajaan Koto Anau dan raja pertamanya memerintah kira-kira pada Abad 12 (antara 1101-1199 M). Pada masa itu Raja Kerajaan Melayu yang mengungsi akibat serangan Kerajaan Sriwijaya di Rawang Hitam Sungai Nyalo berpindah ke Koto Anau karena terjadinya pernikahan antara Raja Pitalo Jombang dengan Putri Sari Mayang. dari pernikahan mereka lahirlah Putra yang bernama Baramandeo, diperkirakan nama putranya tersebut berasal dari kata Warmadewa (Mauliwarmadewa). Seiring berjalannya waktu Baramandeo kemudian bergelar Dt. Bagindo Yang Dipatuan, pada masa pemerintahannya (Dt. Bagindo Yang Dipatuan) menghubungkan diri (bertautan) ke Malayu Kampuang Dalam Siguntur (Pulau Punjuang, Dharmasraya) yang merupakan Ibu Kota yang didirikan pada saat Dt. Sinaro dari Rawang Hitam mengusir “Jawi Orok” dari pedalaman Minangkabau. Setelah Adityawarman (pertengahan akhir abad 14) memindahkan (?) Ibu Kota Kerajaan ke pedalaman (pagaruyung/saruaso??) Kerajaan Koto Anau menghubungkan pemerintahan ke sana. Pada saat itu juga Konfederasi Kubuang Tigo Baleh berdiri.

Pada Zaman yang berbeda yakni pada masa pemerintahan Raja Pamowano (tahun tidak diketahui) yang berkedudukan di Ulak Tanjuang Bungo  Pagaruyuang, Raja Koto Anau tidak mendukung pemerintahan tersebut. Kerajaan Koto Anau lebih mendukung kekuasaan Raja Dewang Sari Deowano (tahun tidak diketahui) yang didalam kaba Cindua-Mato disebut juga Alam Dunie, pada waktu penguasaan yang dilakukan Rajo Pamowano, Rajo Dewang Sari Deowano (Alam Dunie) menyingkir ke Muarolembu lalu terus ke Koto Anau ditempat istri dan anaknya mengungsi dan menetap lebih awal di sana.

Setelah sepuluh tahun penguasaan Rajo Pamowano, sang raja yang berkuasa berhasil dijatuhkan, kejatuhannya ini karena terjadi penyerangan yang dilakukan oleh pasukan gabungan Koto Anau, Supayang, Agam dan Tanjung Sunggayang. Di Koto Anau pada saat penyerangan gabungan tersebut dipimpin oleh Rajo Bujang Paman disebut juga Bagindo Rajo Liman yang beristrikan Putri Ratnawali.

Jatuhnya kekuasaan Rajo Pamowano mengembalikan tahta kekuasaan kepada Rajo Dewang Sari Deowano, selang beberapa waktu setelah kembalinya tahta, sang rajo menikah kembali untuk ke dua kalinya, akibat dari pernikahan itu istri dan anaknya kembali ke Koto Anau karena tidak menyetujui tindakan rajo tersebut. semenjak peristiwa itu Koto Anau tidak lagi memberikan dukungan kepada Rajo Dewang Sari Deowano.

Rajo Kerajaan Koto Anau selanjutnya yakni Tuanku Rajo Baromandeo (tahun tidak diketahui) menikahi putri dari Rajo Dewang Sari Deowano, putri tersebut bernama Putri Ratna Sari (tahun tidak diketahui) yang melahirkan keturunan dan raja-raja selanjutnya di Koto Anau, dari masa Putri Ratna Sari tidak ada lagi hubungan antara Koto Anau dan Pagaruyung.

note: bagaimanapun sejarah yang dituliskan, benar dan salah itu tergantung seberapa jauh penyelidikan dan penelitian yang dilakukan, semoga seiring berjalannya waktu sejarah semakin jelas.

About minangheritage

Minangkabau Heritage adalah sebuah gerakan konservasi Warisan Budaya Minangkabau yang berangkat dari kesadaran akan perlunya portal open data dengan sumber terbuka yang bertemakan Kebudayaan Minangkabau. Proyek ini diselenggarakan secara gotong royong baik dari sisi teknis, penyuntingan naskah dan pelbagai kegiatan lainnya. Saat ini ada 3 Sub Tema besar yang sedang dikerjakan yaitu : Sejarah Minangkabau, Budaya Minangkabau, Warisan Minangkabau. Ingin berpartisipasi ? Silahkan kirim file, naskah, dokumen anda melalui menu yang tersedia atau kiri email beserta lampiranya ke [email protected]

Check Also

Raja Siguntur Daulat Tuanku Seri Alam Khalifah Allah Fil Alam Jauhan Berdaulat Sah Terusan

Pasal pada ini menyatakan, maka datanglah Tuanku dari Negeri Indu (Indra) Puru (Pura), berlayar dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *