Home / Naskah Lokal / Jejak Dt. Perpatih Nan Sabatang di Nagari Selayo

Jejak Dt. Perpatih Nan Sabatang di Nagari Selayo

Dalam bertani, masyarakat Nagari Selayo sejak dahulu terkenal maju selangkah. Pengairan sawah di daerah ini sudah teratur rapi sejak nagari itu mulai dihuni. Tali Bandar mengairi petak-petak sawah yang membentang luas. Sehingga, masyarakat Selayo sejak dahulu punya pusaka yang memadai, dikenal sebagai orang kaya.

Kondisi ini pulalah yang mengundang, banyak kaum pendatang menumpang hidup di nagari ini. Pendatang ini kebanyakan terbang menumpu-hinggap mencekam di tanah para penghulu, penguasa nagari masa lampau dan berlanjut hingga kini.

Gaya hidup teratur yang berkesan mewah, tidak hanya dibuktikan oleh penampilan masyarakat Selayo dalam mengadakan pesta perhelatan. Tetapi juga terlihat dari susunan perumahan di Nagari Selayo, yang sejak dahulu kala sudah tertata rapi serupa Perumnas.

“Sampai kini, kita akan tetap melihat bentuk pemilikan tanah di Selayo bagai kapling-kapling Perumnas. Semua ini peninggalan Datuak Parpatiah Nan Sabatang, ketika beliau sering berkunjung ke Selayo,” kata Muzni Hamzah mengutip cerita masa silam saat dijumpai beberapa waktu lampau.

Dalam catatan sejarah, Datuak Parpatiah Nan Sabatang, hidup pada waktu pemerintahan Adityawarman, pada awal abab ke-14 (1315 M). Dalam salah satu versi sejarah disebutkan keberadaan Adityawarman menjadi raja di Kerajaan Pagaruyung, tercatat Datuk Parpatiah Nan Sabatang selaku patih kerajaan.

Sebagai tokoh panutan dalam masyarakat Minangkabau, yang memimpin Kelarasan Bodi Caniago, Datuk Parpatiah Nan Sabatang, mempunyai kesukaan mengembara, tidak saja di Minangkabau, tapi sampai ke tanah Jawa. Dalam pengembaraannya, beliau selalu menimba berbagai ilmu dari negeri-negeri yang dikunjunginya. Bila ada hal-hal yang kiranya bermanfaat untuk diterapkan di Minangkabau, maka beliau akan menyebarluaskannya.

Seperti pengembangan pertanian, pembangunan dan lain-lain, yang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Minangkabau masa itu. Pengembangan pencetakkan sawah baru, cara bercocok tanam, membuat saluran-saluran air untuk meningkatkan hasil pertanian. Hal ini sudah diterapkan di Selayo.

“Hari terakhir kehadiran Datuak Parpatiah Nan Sabatang di Selayo, adalah ketika beliau baru saja kembali mengembara dari tanah Jawa. Kedatangan beliau diiringi dua orang pengikut, yaitu seorang Tumenggung dari Kerajaan Majapahit dan seorang Pangeran dari Banten. Dua tokoh tersebut, masing-masing mempunyai keahlian. Tumenggung seorang ahli pertanian/persawahan, yang kemudian memberikan petunjuk-petunjuk kepada anak Nagari Selayo. Sedangkan Pangeran Banten, merupakan seorang ahli ilmu bela diri, yang kemudian juga memberikan latihan beladiri kepada anak Nageri Selayo,” kata Pajri didampingi Wali Nagari Selayo Muzni Hamzah Malin Sutan.

Seperti diungkapkan Pajri yang manatan Kepala Desa Selayo ini, rupanya pengembaraan Datuak Parpatiah Nan Sabatang, berakhir di Nagari Selayo, karena setelah beberapa hari beristirahat di nagari itu, beliau meninggal dunia.

“Setelah meninggalnya Datuak Parpatiah Nan Sabatang, pengikut beliau dua orang dari Jawa, menetap di Nagari Selayo. Pengeran Raja Banten berdiam dalam suku Subarang Tabek, sedangkan Tumenggung dari Majapahit tinggal dalam suku IV Ninik. Kemudian setelah keduanya meninggal, jenazah mereka dimakamkan di samping makam Datuak Parpatiah Nan Sabatang di Bukit Munggu Tanah,” Pajri menjelaskan.

Parpatiah yang dianggap keramat

Bagi anak Nagari Selayo dan sekitarnya, makam Datuak Parpatiah Nan Sabatang dianggap sebagai makam yang keramat. Pada zaman dahulu sampai kepada akhir zaman orde lama, anak Nagari Selayo dan sekitarnya masih sering melakukan ziarah ke makam tersebut dengan menyampaikan do’a-do’a yang sering diiringkan dengan permohonan agar cita-cita yang diidamkan terkabul.

Mereka mempercayai, tempat Datuak Parpatiah sangat baik sebagai tempat memanjatkan doa, dan melafalkan nazar. Hal ini didasari, arwah “niniak-angku” –sebutan Datuak Parapatiah di Selayo, selalu menyertai doa anak cucunya. Dari keterangan masyarakat setempat, pada zaman dahulu sebelum 1980, anak nagari sekitarnya, sering melakukan kaul (melepaskan hajat dengan berdoa, sambil makan-makan) ke makam “ninik-angku”.

Kaul ini biasanya dilakukan sebelum mulai turun ke sawah, pada penghujung musim kemarau. Acara ini dilakukan dengan membantai sapi, kambing dan ayam, kemudian anak nagari makan bersama dan mendo’a bersama memohon berkah Allah Swt di makam almarhum.

Menurut Anwar Bay, 54, penjaga makam Datuak Parpatiah, hal-hal aneh tapi nyata berkaitan dengan makam “ninik-angku” yang sering dialami masyarakat Nagari Selayo dan sekitarnya, antara lain adalah: ketika terjadi musibah seperti gempa bumi yang dahsyat (tahun 1926), banjir besar (awal tahun 1927), Perang Silungkang, Masukknya Penjajah Jepang, Gestapu dan lain-lain. Pada masa itu rakyat Selayo dan sekitarnya, diberitahu oleh “niniak angku” dengan mengelegarnya makam tersebut berturut-turut sampai tiga kali selama beberapa hari.

“Menurut cerita orang tua-tua, bila ada hal-hal yang gawat makam di Bukit Munggu Tanah akan bergetar keras. Getaran (gaga) itu akan diikuti oleh perkuburan Parak Tingga, lalu diikuti oleh gaga dari perkuburan Guguak Kilangan di Padang Kunik, Sawah Sudut Selayo. Akhirnya di sahuti lagi dengan gaga di lokasi pekuburan Balai di Gelanggang Tangah Selayo.

Getaran ini merupakan getaran yang bersumber dari lokasi-lokasi pekuburan orang-orang sakti itu, diiringi bunyi guruh petir yang menegakkan bulu roma. Semua peristiwa itu, jelas terdengar oleh anak Nagari Selayo. Gaga (gelegar) ini terjadi berhari-hari dengan bersahut-sahutan siang dan malam, berakhir sampai musibah tersebut terjadi dan berlaku,” ujar Pajri menceritakan dengan mimik yang sangat serius.

Menurutnya, tahun-tahun terakhir, gelegar semacam itu sudah makin jarang terjadi, terakhir kali terjadi beberapa saat sejak peristiwa G-30-S/PKI akan meletus.

Bagi masyarakat Nagari Selayo, tokoh “ninik-angku” yang dimakamkan di Bukit Munggu Tanah tersebut, merupakan tokoh ninik moyangnya yang dikeramatkan.

Datuk Parpatiah dianggap tokoh yang banyak berjasa bagi anak Nagari Selayo, hingga kehidupan masyarakat daerah ini yang hampir 100% agraris, telah hidup dengan makmur dari hasil sawah dan ladang.

Berasal dari Limo Kaum

Sebagai orang yang telah banyak berjasa bagi perkembangan masyarakat, anak Nagari Selayo menyadari bahwa tokoh agung Datuak Parpatiah Nan Sabatang, bukanlah berasal dari nagari mereka. “Beliau adalah orang orang Dusun Tuo, Lima Kaum, Luhak Tanah Data,” kata Anwar Bay.

Orang asli Nagari Selayo, sebagaimana diketahui pasti punya pandam pekuburan sendiri, dimana setiap kaumnya harus dikuburkan dipandam pekuburan kaum tersebut. Sementara Datuak Perpatih Nan Sabatang bermakam di Bukit Munggu Tanah. Lokasi ini bukanlah merupakan pandam pekuburan, melainkan sebuah munggu (tanah yang meninggi bagai bukit) kepunyaan Datuak Gadang. Jadi lokasi makam Datuak Parpatih Nan Sabatang tersebut merupakan lokasi pekuburan khusus bagi beliau.

Datuak Parpatiah Nan Sabatang, menurut catatan sejarah berasal dari Limo Kaum, sebenarnya masih misteri. Sudah berapa lama riwayat etnis Minangkabau terbentang, sekian banyak pula para ahli sejarah mencari tahu dimana makam beliau sebenarnya. Namun, sedikit ahli sejarah yang dapat mengemukakan kehidupan beliau. Justru yang banyak ditilik dan kaji adalah buah pikiran beliau yang masih dianut ditaati oleh anak Minang hingga zaman modern ini.

Bukit Munggu Tanah

Adalah suatu kebingungan juga, bila kita hanya tahu dengan buah pikiran orang, tapi tidak tahu dimana pekuburan orang yang dikagumi itu. Akan tetapi setelah penelitian lebih lanjut dilakukan oleh para peneliti sejarah, baik di dalam, maupun luar negeri disepakati, bahwa makam Datuak Parpatiah Nan Sabatang berada di Bukit Munggu Tanah, Jorong Batu Palano Selayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok. Benarkah? (AS)

Sumber:

http://amperasalim.wordpress.com/2009/04/01/nagari-selayo-dahulu-selangkah/

About minangheritage

Minangkabau Heritage adalah sebuah gerakan konservasi Warisan Budaya Minangkabau yang berangkat dari kesadaran akan perlunya portal open data dengan sumber terbuka yang bertemakan Kebudayaan Minangkabau. Proyek ini diselenggarakan secara gotong royong baik dari sisi teknis, penyuntingan naskah dan pelbagai kegiatan lainnya. Saat ini ada 3 Sub Tema besar yang sedang dikerjakan yaitu : Sejarah Minangkabau, Budaya Minangkabau, Warisan Minangkabau. Ingin berpartisipasi ? Silahkan kirim file, naskah, dokumen anda melalui menu yang tersedia atau kiri email beserta lampiranya ke [email protected]

Check Also

Kudeta Di Pagaruyung (1514- 1524), Peristiwa Tragis Yang Terlupakan

  Penyerbuan Dewang Parakrama Dari pihak dalam negeri, ketidaksenangan terhadap pemerintahan Maharaja Dewana dan Raja …

4 comments

  1. saya kok jadi bingung dengan posting ini, diatas disebutkan Dt perpatiah nan sabatang hidup di zaman Adityawarman, beliau sebagai Patihnya, sementara dihalaman lain Dt Perpatiah adalah saudara tiri dari Dt ketemanggunggan yg merupakan keturunan ke dua dari DT sri maharaja Raja pertama Minang Tuo…tentu zaman nya saja sdh berbeda, ini tambo yg salah atau penulis yg keliru atau saya yg tdk mengerti….atau org solok yg nagrang-ngarang cerita ? ini saya kutip dihalaman lain dalam blog ini…:Kerajaan Minangkabau Tua yang belum bernama Minangkabau ini bertahan ratusan tahun sepanjang umur Datuak Maharajo Dirajo yang diyakini sebagai manusia Setengah Dewa yang dianugrahi umur ratusan tahun, setelah beliau mangkat pemerintahan dilanjutkan oleh Datuak Suri Dirajo Penghulu kepercayaannya.

    Salah seorang Janda Datuak Maharajo Dirajo yang bergelar Puti Indo Julito dikawini oleh Cati Bilang Pandai orang kepercayaan almarhum yang kemudian memboyong keluarga beserta anak2nya Jatang Sutan Balun, Puti Jamilan, Sutan Sakalap Dunia, Puti Reno Sudah dan Mambang Sutan ke Dusun Tuo Limo Kaum, selanjutnya setelah mereka dewasa Datuak Suri Dirajo bermufakat bersama Cati Bilang Pandai untuk mengangkat Sutan Paduko Basa dengan gelar Datuak Katumangguangan dan Jatang Sutan Balun dengan gelar Datuak Perpatiah Nan Sabatang serta Sutan Sakalap Dunia dengan gelar Datuak Surimarajo Nan Ba-nego2 sebagai Penghulu2 yang akan membantu beliau, keputusan ini dimufakati diatas Batu Nan Tigo dengan meminumkan air keris Si Ganjo Erah dengan sumpah setia “Bakato bana babuek baiak mahukum adia bilo dilangga kaateh indak bapucuak kabawah indak baurek di-tangah2 digiriak kumbang”, Ibunda Puti Indo Julito menyerahkan pusaka keris Siganjo Erah dan Siganjo Aia serta Tungkek Janawi Haluih kepada Datuak Ketumangguangan sedangkan Datuak Parpatiah Nan Sabatang menerima keris Balangkuak Cerek Simundam Manti dan Simundam Panuah serta Payuang Kuniang Kabasaran (pertama Ranah Minang menerapkan warisan dari ibu) dan selanjutnya Istano Dusun Tuo menjadi pusat pemerintahan melanjutkan kepemimpinan Datuak Suri Dirajo yang meghabiskan masa tua di Istano Koto Batu.

  2. Salam Mr. Asrinaldi,

    Artikel dalam blok ini bersumber dari bermacam-macam tambo dan penyaduran. Saya tidak menjamin semuanya akan sinkron, malah banyak kasus akan saling berseberangan, baik mengenai tokoh maupun tarikh.

    Tambo memang bukan dokumen sejarah, selanjutnya silahkan cek tulisan-tulisan di bagian hipotesa di daftar isi, yang merupakan tafsiran saya terhadap sumber-sumber yg banyak ini.

    So far yang agak masuk akal dan disepakati di banyak Tambo adalah tentang persaudaraan seibu dari DPNS dan DKTM.
    Juga bahwa DKTM adalah orang ke sekian yang bergelar Maharaja Diraja (tidak diketahui Maharaja Diraja ke berapa sejak yang pertama).

    Tafsiran soal keduanya hidup pada zaman Adityawarman, berdasarkan:

    1. Tafsiran Tambo soal Anggang Dari Lauik yang menikahi adik Suri Diraja. ADL ditafsirkan sebagai Aditywarman.

    2. Tafsiran dari Nama Tumanggung Kudavira dan Tuan Perpatih dalam prasasti-prasasti yang ditulis Adityawarman.

    Yang jelas keduanya DKTM & DPNS adalah tokoh historis, bukan cuma legenda.

    Masyarakat Solok Selayo dan Negeri Sembilan memang sangat mengagumi DPNS.

  3. yosi siski amelia

    Saya mungkin termasuk orang awam yang kurang paham tentang seluk beluk sejarah tapi bolehkah saya bertanya, adakah diantara keluarga Dt paprpatiah nan sabatang yang masih hidup sampai sekarang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *