Home / Arkeologi / Candi Pada Situs Padang Lawas ditinjau dari Tata Letaknya

Candi Pada Situs Padang Lawas ditinjau dari Tata Letaknya

Situs Padang Lawas terasosiasi dengan kerajaan pannai muncul pada masa klasik terdapat di sumatera utara kabupaten tapanuli selatan dengan liputan kecamatan padang balah serta kecamatan barumun, situs ini terdapat pada dataran rendah utara bukit barisan yang membujur dari timur kebarat .

Kerajaan Pannai sendiri namanya disebut dalam prasasti Tanjone India Selatan dalam bahasa tamil, setelah kadanam berperang dengan Sriwijaya pada tahun 1017 – 1025 M isinya antara lain:

“ Sriwijaya berhasil di taklukkan dan kerajaan pannailah yang jatuh ketangan kerajaan cola ”

“ kapal – kapal kelautan bergelombang dan menyita (menahan) sang gramawijoyottunggawarman raja kadaran ia menaklukkan Sriwijaya, pannai, malaysur, dan Sriwijaya berada di sumatera “

Selain itu pada naskah yang ditulis oleh Empu Prapanca juga disinggung nama kerajaan pannai pada tahun 1365 M (masa Majapahit) :

“ kerjaan pannai merupakan salah satu bawahan majapahit “

Selain itu juga didapat dalam berita Cina pada abad ke 6

adanya kerajaan pu_ni dan p’_oli “

Yang hal ini oleh schniger diidentifikasikan dengan Pannai atau Kerajaan Pannai di Sumatera.

Di India semua aktifitas pembagunan bangunan suci diatur oleh kitab vastasastra (kitab tentang arsitektur) atau sispalasastra terkomposisi didalamnya manasastra, maya mata, silpaprakasa, visnudharnottam (kitab pegangan silpin).

Bosch mengidentikkan India dan Indonesia mempunyai persamaan pemahaman terhadap manasara yaitu hal yang dijadikan acuan terhadap pembangunan candi, komponennya bangunan profan, bentuk kota, desa, benteng, penempatan kuil-kuil dikomplek kota atau desa.

Candi merupakan manifestasi daribentuk makro kosmos yang terwujud pada sebidang tanah terpilih dan disucikan. Bangunan suci melengkapi unsur ketiga pada dimensi mandala karena dua dimensi telah diwujudkan dalam bentuk vastuparasamandala yang merupakan penjabaran atas kosmos dan titik brahmasthana sehingga pembangunanan bangunan suci telah ditentukan dalam aturan-aturan tertentu.

Boechari menjabarkan bahwa keletakan candi secara teritorial di bagi atas beberapa bentuk yaitu :

Rajya adalah bangunan suci yang dibangun pada wilayah kerajaan.

Watak adalah bangunan suci yang dibangun pada wilayah kelompok tertentu atau kelas Tertentu.

Wanua adalah bangunan suci yang dibangun pada wilayah desa atau kampung.

Kitab silpaprakarsa mebagi atas bentuk denah menjadi dua yaitu :

Bujur sangkar

Ditinjau vastaparasamandala bujur sangkar besar dibagi dengan bujur sangkar yang lebih kecil hingga mendapat jumlah tertentu bangunan ini diperuntukan untuk pemujaan dewa dengan sifat yang statis.

Persegi panjang

Denah ini didasarkan atas kitab yogini yantra dijelaskan bahwa bangunan ini dibentuk atas tujuh buah bidang segitiga bangunan ini sendiri diperuntukan sebagai tempat pemujaan untuk dewi dan sifatnya dinamis.

Dilihat dari tata letak candi di Indonesia tiada duanya masing masing memiliki keistimewaan dan kelainan tetapi dalam pembatasan dan pembagian halaman tetap memiliki kesamaan dengan candi lainnya, fungsi halaman pada candi adalah sebagai pemisah dunia dalam yang suci (sakral) dengan dunia luar (profan).

Di Indonesia sendiri ada 3 pola umum pembagian halaman tersebut yaitu :

1.Memusat

2.Berderet Kebelakang

3.Berteras Kebelakang

Beda halnya dengan situs Padang Lawas yang mempunyai satu halaman dan dikelilingi dengan pagar pada halaman induk terdapat candi induk dan perwaranya, pada situs ini semua komplek mempunyai kesamaan candi induk berada di tengah bagian belakang halaman akan tetapi candi perwaranya tidak mempunyai bagan atau tidak teratur.

Letak candi perwara pada komplek  tidak sesuai dengan konsep vastapurusamandala, candi sebagai tempat suci yang disakralkan yang mereupakan hasil karya masyarakat nya didirikan pada satu tempat yang telah dipilih dan disucikan dan pembagunannya itu mempunyai aturan dan konsep yang telah ditentukan.

Jika diperhatikan dari sketsa denah komplek yang ada orientasi dari komplek candi tidak sama di karenakan pembangunannya yang tidak sama waktunya orientasi seperti ini disebut orientasi kosmos dimana orientasi tersebut merupakan hasil dari tatanan arah matahari, orientasi kosmos adalah pembangunan yang memperhatikan tatanan pada alam semesta selain orientasi kosmos diindonesia juga dikenal pengorientasian cthonis yang mana orientasi ini merupakan terapan dari alam pikiran manusia, pada situs Padang Lawas orientasi tersebut tidak diterapkan.

Didalam kitab manasara silpasastra disebutkan pembangunan bangunan suci terletak dekat dengan air, Pada kondisi penyesuaian dengan aturan yang tertulis situs Padang Lawas menerapkan hal tersebut, dengan melihat posisi masing- masing komplek, candi lahat 1 terletak utara sungai bane berjarak 200 m, candi lahat 2 terletak utara sungai bane berjarak 100 m, candi lahat 3 terletak utara sungai bane berjarak 50 m, candi simatupang terletak pada timur sungai barumun dengan jarak 300 m, dan candi tandihat berada pada sisi utara sungai barumun dengan jarak 200 m.

Kaitan kedekatan pembangunan dengan sumber aior yaitu sungai pada situs Padang Lawas mempunyai faktor lain selain faktor religiusnya yaitu faktor praktis ketika pengiriman material pembangunan candi sungai di manfaatkankan sebagai sarana transport, faktor ekonomis sungai merupakan tempat yang strategis pada tempat itu karena sungainya yang lebar dan tidak berbatu dapat dipakai sebagai labuhan kapal layar untuk berdagang

About minangheritage

Minangkabau Heritage adalah sebuah gerakan konservasi Warisan Budaya Minangkabau yang berangkat dari kesadaran akan perlunya portal open data dengan sumber terbuka yang bertemakan Kebudayaan Minangkabau. Proyek ini diselenggarakan secara gotong royong baik dari sisi teknis, penyuntingan naskah dan pelbagai kegiatan lainnya. Saat ini ada 3 Sub Tema besar yang sedang dikerjakan yaitu : Sejarah Minangkabau, Budaya Minangkabau, Warisan Minangkabau. Ingin berpartisipasi ? Silahkan kirim file, naskah, dokumen anda melalui menu yang tersedia atau kiri email beserta lampiranya ke [email protected]

Check Also

Brunai Darussalam

TRANSCRIPTION AND TRANSLATION OF A HISTORIC TABLET Engraved on stone, in the Malay character, by …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *